Kampanye dan Dukungan Santun

Sore-sore wajah bapak saya bertekuk, karena saya harus bolak balik dapur mengurusi cumi-cumi jadi saya membiarkan saja. Namun setelah kira-kira 20 menit cumi-cumi saya matang, wajahnya masih juga cemberut saja hingga kemudian tiba-tiba saja beliau bicara “Kalau capres X yang dukung ya tukang becak!” Saya cukup kaget dan tidak paham maksudnya, saya hanya menoleh sambil menaikkan alis ke adik saya yang tengkurap di sofa, dan dia kemudian hanya menggeleng. Baiklah saya akhirnya memberanikan bertanya

“Kenapa pak? Bapak abis debat sama tukang becak masalah capres?”

Tebakan tepat sasaran

“gak juga sebenernya, tapi ya Abang itu… milih capres X”

“Terus… bapak di bantah?” saya agak menyelidik karena moodnya benar-benar terasa buruk.

“em,, ya biasalah.. tapi kan bukan level saya, saya bilang saja terkait inflasi jakarta yang turun karena capres pilihan saya, ah sudahlah…”

Adik saya tersenyum penuh arti. Bapak saya memang mendukung salah satu capres, dan saya serta adik saya sering melihat bapak saya ini sedikit berkampanye ke para tetangga yang beliau ajak bicara. Namun, kali ini tampaknya bapak saya kesal karena kampanyenya agak gagal pakai total.

Kondisi demikian tidak hanya terjadi pada bapak saya, tetapi menjadi cukup mainstream terjadi dihampir tiap individu yang memiliki suara karena kubu calon presiden kali ini benar-benar hanya terdiri dari dua, ekstrim. Apabila pilihannya hanya dua seperti ini, sebenarnya saya cukup bersyukur karena anggaran negara untuk pemilihan menjadi tidak begitu besar. Namun, yang menakutkan kemudian adalah kondisi masing-masing pendukung calon yang bisa menjadi sangat militan. Mereka akan membentuk indentitas baru yang secara tidak sadar melebur dalam satu kubu (fusion identity), mereka akan merasa sakit bila tokohnya di senggol meskipun hanya sedikit, dan menganggap individu lain yang menjadi “out group”nya dapat saja memunculkan bahaya sehingga sebelum diserang muncullah ide untuk menyerang.

Sebagai pribadi, saya bukan pendukung salah satu calon presiden, mungkin lebih tepatnya saya adalah orang yang memilih berdiri di ranah netral ketika berhadapan dengan lingkungan sosial. Mengenai pilihan saya, biarlah itu menjadi rahasia saya saja dalam hati dan bilik TPS nanti. Namun kemudian, saya juga ingin sekali ikut berkampanye, bukan untuk mendukung salah satu pasangan calon presiden dan wapres, tetapi untuk menyuarakan kampanye atau dukungan santun atas capres-cawapres untuk masyarakat yang memiliki suara mengambang.

Sejujurnya saya mulai agak terganggu ketika akun Facebook saya, satu-satunya jejaring sosial yang sangat sering saya hidupkan, tempat dimana saya mencari hiburan, mulai juga terisi dengan kampanye (dan buruknya) dengan warnanya yang hitam.  Mulai dari keturunan, agama, orang tua, label penipu, penculik, dan lain-lainnya yang membuat mata saya pedas. Yang paling akhir, tentang foto antara yang ganteng dan kurang ganteng. Hem… saya bertanya, apakah kemampuan memimpin itu berhubungan dengan gantengnya masa muda? Sungguh ajaran agama manapun tak pernah memperbolehkan seseorang untuk menghinakan fisik manusia yang telah diciptakan Tuhan dengan kesempurnaan.

Sebagai rakyat jelata (karena saya belum sanggup bilang kalau saya jelita), saya memiliki harapan agar lingkungan saya dapat cerdas dan tenang dalam memilih, bukan saling menjatuhkan dan membuka aib, bukan juga dengan ngotot bahwa yang didukung adalah yang paling benar dan tidak ada cela, tidak boleh diberi pertanyaan tentang masa lalunya, atau hal-hal lain yang membuat orang seperti saya (sedikit) muak dengan militansi para pendukung yang makin hari, makin tidak sehat. Padahal di sisi lain saya juga mengakui militansi dalam politik itu diperlukan, tidak mungkinkan menjadi kader atau relawan pendukung memiliki sikap ogah-ogahan, tidak berani hidup tidak tenang serta cari aman seperti saya, tetapi kalau sudah sangat negatif… siapa yang mau menaruh simpati?

Ibaratnya, dalam menjual barang, apakah perlu sibuk menjatuhkan toko di sebarang jalan?

Saya pikir kesibukan akan lebih bermakna saat kita berusaha menampilkan dan terus menjaga kualitas sebagai bukti bahwa apa yang sedang kita jual tidak membohongi para calon pembeli.

Dan satu lagi, sepanjang saya mengenal politik (di Indonesia ini) tampaknya tak pernah ada kawan abadi, begitu juga lawan abadi.

persaingan untuk mendapatkan kemuliaan, seharusnya dengan beradu kemuliaan. Penyanjungmu suatu saat bisa saja menjadi pemakimu. Demikian sebaliknya. Maka jangan berlebihan menyanjung atau memaki.” KH. A. Musthofa Bisri.

—-wujudkan Indonesia cerdas, dengan kampanye/dukungan santun.

 

Advertisements

Pernikahan dan Kebahagiaan

Tesis saya yang tentang dewasa muda, membuat saya arus membolak-balik lembaran buku bertemakan orang dewasa. Menarik ketika saya membuka buku pagi ini dan halaman yang terbuka adalah tentang pernikahan. Tampaknya sebuah buku juga bisa menyindir saya mengenai hal macam ini. Lebih menarik lagi karena bahasan tentang menikah itu mencakup kalimat “orang yang menikah cenderung lebih bahagia dari pada orang yang tidak menikah, walaupun mereka yang menikah berada dalam pernikahan yang dipersepsi tidak membahagiakan (Myers, 2000).”

Benarkah pernikahan membuat bahagia?

Beberapa pekan yang lalu, tanpa sengaja saya melontarkan celetukan terkait masalah-masalah individu yang harus saya tangani untuk mencapai gelar profesi psikolog, dengan enteng *bila tidak mau disebut tanpa ingat dosa, saya bilang bahwa permasalahan individu bersumber pada satu yaitu bergabungnya dua manusia dalam satu atap rumah tangga. Namun ternyata pagi ini, bagi saya pernyataan itu tampak patah dengan pernyataan Pak Myers di atas.

Lebih lanjut, saya menjadi teringat tentang video penelitian tentang pasangan suami istri dalam kelas terapi keluarga. Penelitian tentang pernikahan yang dilakukan oleh seorang profesor Yahudi terhadap beberapa pasangan muda dengan lama kebersamaan pernikahan yang berbeda-beda. Yang menarik adalah, video ini menunjukkan bahwa kebersamaan yang rawan konflik tetap bisa membuat sebuah pernikahan bertahan tanpa menemui usulan untuk melakukan perceraian. Saya ingat ketika sala dua pasangan  diteliti mengenai  bagaimana pola komunikasi mereka dalam jangka waktu 15 menit. Menariknya kesamaan di antara keduanya adalah perempuan yang mendominasi percakapan, dapat dikatakan perbandingannya sekitar 70:30, 70 untuk istri dan 30 untuk suami. Kedua pasangan tersebut juga memunculkan konflik yang sama ketika suami mulai terlihat tidak mampu merespons apa yang dikatakan oleh istrinya. Seingat saya, hanya ada wajah bingung dan sikap diam yang diperlihatkan oleh suami, sedang istri semakin meninggikan suara dan memunculkan ekspresi emosi yang membuat suasana semakin tegang. Sampai pada tahap ini, kedua pasangan memiliki nasib yang sama. Namun selanjutnya mulai tampak berbeda dan ini cukup menarik karena saya menjadi semakin banyak mengangguk karena salah satu pasangan pada akhirnya dapat menurunkan ketegangan sedang yang lain meskipun juga berhenti melakukan pembicaraan tetapi masih tampak suasana tegang dan guratan ekspresi tertekan. Saya sebenarnya tidak menangkap secara langsung bagaimana dua pasangan ini menyelesaikan pembicaraan mereka, tetapi Pak Profesor menjelaskan bahwa pasangan dengan ketegangan yang menurun sebenarnya telah melakukan menejemen konflik yang tepat. Entah keduanya, laki-laki dan perempuan itu saling meredakan ketegangan atau salah satu dari mereka memunculkan usaha untuk meredakan konflik yang muncul dengan bertindak lebih positif seperti menghargai pendapat pasangannya atau memberikan sentuhan lembut sebagai cara untuk mengurai benang kusut yang muncul karena perdebatan.

Konflik pernikahan seringkali muncul akibat perbedaan harapan antara perempuan dan laki-laki dalam pernikahan mereka. Dalam relasi pernikahan yang intim, seringkali perempuan jauh lebih mementingkan ekspresi emosi dibandingkan laki-laki. Selain itu, istri cenderung memperpanjang suatu masalah dan menunjukkan kekesalan bila suami mereka menyerang balik atau menghindar dari tanggung jawab menyelesaikan konflik. Sedangkan di sisi lain, suami cenderung puas bila istri menunjukkan sikap ingin “berbaikan” tanpa perlu banyak membahas sumber konflik yang ada (Fincham, Beach, & Davila, 2004).

 

Tampaknya memang tidak akan pernah ada pernikahan yang berjalan sangat damai, layaknya akhir cerita dongeng di mana pangeran dan putri hidup bahagia selamanya, yang ada adalah bagaimana raja dan ratu dalam rumah tangga berusaha untuk melakukan resiliensi terhadap konflik yang muncul. Sebuah penelitian longitudinal (jangka panjang) terhadap 2.034 pasangan menikah dengan usia individu sekitar 55 tahun atau kurang, memperlihatkan bahwa keterampilan mereka dalam mempertahankan pernikahan lebih banyak terkait dengan usaha memunculkan penghargaan terhadap pasangan dan hubungan intim di antara keduanya. Penghargaan tersebut meliputi pemberian cinta, rasa hormat, kepercayaan, kemampuan berkomunikasi (penyampaian pendapat dan perasaan), dan komitmen terhadap utuhnya keluarga yang mereka bangun (Previti & Amato, 2003).

Kehidupan manusia sebenarnya rawan penderitaan, di mana pun fasenya, baik saat hidup sendiri ataupun saat berteman. Karena kebahagian merupakan keputusan manusia itu sendiri tanpa banyak di campuri oleh lingkungannya, termasuk kebahagiaan dalam pernikahan. Sehingga dalam perjalanan kehidupan, mungkin manusia tidak perlu banyak sibuk untuk mencari (atau membeli) kebahagiaan, tapi belajar terampil menghadapi penderitaan termasuk di dalam pernikahan, yang selanjutnya mungkin juga berarti tidak perlu sangat sibuk menuntut pasangan dapat memberikan kebahagiaan, tetapi bagaimana memberikan kebahagiaan dan akhirnya menikmati kebahagiaan itu bersama.

*By the way, mungkin lebih imbang bila tulisan macam begini di tulis oleh mereka yang sedikit banyak telah merasakan pahit dan manisnya kebersamaan pernikahan, tapi bolehkan belajar dan berkesimpulan tidak melulu dengan telah melakukan?

nikah

Pencilan di Luar Normal

outliarMbak… kayaknya aku beda gitu sama temen-temen.

*Apanya yang beda?

Hem… aku cemas aja kalo ternyata aku gak normal, gak sama kayak mereka atau orang kebanyakan.

 

Benarkan kita harus hidup normal?

Dulu saat masih remaja, saya juga termasuk individu yang inginnya seperti orang kebanyakan. Cemas ketika menemukan, diri saya berbeda. Misalnya saja tentang huruf R saya yang tidak biasa, saya sampai latihan tiap hari agar lidah saya bisa bergetar melafalkan huruf R itu, hasilnya nihil malah lidah saya berasa mati rasa karena kebanyakan berlatih. Selain itu, saya juga sering cemas ketika harus berjalan pulang sekolah sendirian, alasannya takut terlihat tidak punya teman. Dengan demikian saya mulai menyamakan diri dengan teman atau orang di sekitar saya. Saya ikuti obrolannya, saya ikut nongkrongnya di bawah pohon beringin sekolah, ikut nonton bioskop, ikut bersandar di jembatan, tujuannya hanya satu, agar terlihat punya teman.

Saat SMP saya punya juga genk dengan nama P4, nama itu kami pilih karena saat itu sedang booming boyband F4. Sebenar-benarnya saya tidak peduli dengan boyband ini, tapi agar diri saya sama dengan tiga teman saya yang lain dan genk kami lengkap akhirnya saya sedikit cari tahu dan memutuskan (berpura-pura) suka dengan salah satu anggota boyband Taiwan itu. Semua saya lakukan agar saya punya teman dan terlihat normal, yang sebenarnya sedikit banyak malah berbohong pada diri saya, lelah, lama-kelamaan menjadi menderita.

Normal. Dalam statistik, manusia dikatakan normal ketika ia masuk dalam kurva normal. Selanjutnya, dalam penelitian berbasis kuantitatif data-data yang tidak normal atau biasa di sebut dengan pencilan akan di sarankan untuk dihilangkan, dimusnahkan agar tidak menggangu pehitungan data normal. Dengan pemaknaan demikian, manusia yang tidak normal akan disarankan untuk tidak diperhitungkan atau tidak perlu dianggap ada. Lalu bagaimana jika kumpulan yang dikatakan normal sebenarnya adalah kumpulan yang sebenarnya tidak normal?

Kebanyakan orang mungkin juga berpikir seperti saya yang remaja, berkeinginan untuk menjadi normal yang artinya sama dengan lingkungan, hingga akhirnya lebur dalam lingkungan dan melupakan identitas dan karakternya sendiri yang sebenarnya unik dan mungkin lebih menarik. Dengan kondisi demikian, yang ada selanjutnya adalah keinginan kuat untuk selalu menjadi sama dengan lingkungan dan malah menghadirkan ketidaksehatan psikologis karena tidak terima bahwa dirinya mungkin saja berbeda. Atau malah tidak menerima ketika ada orang lain yang berbeda.

manusia sering kali bersusah payah untuk mencari persamaan, tujuannya satu untuk mencari koloni, kumpulan agar bisa saling membersamai dan tidak merasa sendiri. ketakutan menjadi “sendiri” ini yang kemudian memaksa manusia bergerak agar selalu bisa sama dengan orang lain dan selalu ingin menjadi normal atau lebih tepatnya berada dalam kurva normal. Hal inilah yang kemudian menjadi mainstream bahwa manusia yang sehat adalah ketika dia berada dalam kurva normal, padahal manusia diciptakan berbeda-beda.

Ketidakterimaan atau lebih tepatnya ketidaksiapan menerima perbedaan membuat kita menuntut banyak terhadap diri kita atau apapun yang memiliki beda untuk menjadi sama. Menekan atau memperkecil toleransi atas ketidaksamaan. Padahal bila saja dunia ini terdiri atas mereka yang sama, sepertinya tidak akan terjadi dinamika dan akan monoton saja, tidak ada inovasi, pembaruan, keramaian, begitu saja berjalan konstan tanpa getar apalagi gelombang yang memicu pergerakan yang mengembangkan.

Menjadi berbeda, atau sedikit berbeda bukan sebuah masalah. Jangan kemudian sangat menuntut diri menjadi normal atau sama. Apa-apa yang “sangat” malah mungkin menghadirkan beban yang menyakitkan. Kenali diri kita, dalami dan pahami di mana perbedaannya, terima sebagai pemberian Tuhan yang Kuasa. Sehatnya mental manusia bukan diukur dari seberapa sama dia dengan orang lain dilingkungannya, tetapi seberapa fleksibel ia terhadap apa-apa yang berbeda antara dirinya dan lingkungan serta bersedia menerima dengan menghormatinya.

Maybe, sometimes I’m not normal

I don’t want to be

I don’t pretend to be

I am me.

Passenger on The Bus

“Saya mengundang anda untuk membayangkan tentang seorang supir bus dan busnya yang berisi penuh penumpang. Pak supir adalah pengendali dan penanggungjawab utama bus, ditangannya bus itu mungkin bisa sampai ke tujuan, tapi ditangannya pula bus itu mungkin saja masuk jurang. Entah bagaimana perjalanan bus kali ini dipenuhi dengan penumpang-penumpang banyak mau. Ada yang meminta ingin turun, ada yang ingin bus lebih cepat bergerak, ada yang ribut dengan pemandangan alam, ada yang ingin pipis, ada yang… yah, macam-macam. Keadaan riweuh demikian tentu mengganggu konsentrasi pak supir yang menyetir, tetapi bagaimana pun juga ia tak mungkin menurunkan penumpangnya di tengah jalan karena bus punya tujuan akhir dan tanggungjawab itu berada ditangan pak supir yang memegang kendali steer.”

Sebuah metafora: Passenger on the Bus

 

 

 

Apa yang terpikir? Kalo tidak ada, tidak apa. Metafora di atas adalah salah satu paragraf dalam step terapi yang sedang saya gandrungi, terapi yang saya pakai untuk membuat saya lulus dari kuliah, Acceptance Commitment Therapy (ACT). Terapi yang memberikan gambaran berbeda pada diri saya tentang sebuah ketenangan jiwa saat bertemu dengan apa saja. Sebenarnya metafora itu ingin bicara agar kita tidak terprovokasi dengan banyak hal di sekitar dan tetap fokus pada tujuan yang telah disepakati. *lucunya kegandrungan saya pada terapi ini setelah saya pikir-pikir adalah sebuah hasil dari provokasi J ah,, hidup memang sulit hitam-putih.

 

 

 

Dalam perjalanan hidup, manusia memiliki banyak sisi. Misalnya saja diri saya, saya menemukan diri saya memiliki sisi pencemas. Jujur saya baru menyadari dan mengenal sisi ini sekitar 4-5 bulan terakhir. Kalau dia sedang bangun dan berlonjak-lonjak,, diri saya jadi sering menangis, merasa ketakutan, merasa tidak nyaman, banyak menyalahkan diri saya sendiri, bahkan kesenangan saya untuk bisa tidur tenang menjadi terganggu. Ok saat itu saya hanya bisa bilang “Good job ‘pencemas’ kerjamu berhasil mengacaukan sebagian besar hidup ku, bisakah kau musnah saja?”.

 

Selain sisi pencemas, ada lagi sisi logis. Si logis ini membuat saya sering berbohong mengenai perasaan dan emosi saya sendiri, suka bilang tidak suka, ingin bilang tidak ingin, mau bilang tidak mau, bahkan dalam mengerjalan tes psikologis sisi logis saya ini membuat kekacauan hingga  saya mengganti banyak respons yang ingin saya munculkan menjadi respons lain yang sesuai dengan keinginan si logis. Berbohong, jika berjenis ‘putih’ ada kalanya dibutuhkan, tapi bukan untuk diri sendiri.  Tampaknya cukup saya ceritakan dua sisi yang saya miliki, karena bila lebih bisa makin terlihat buruknya saya ini.

 

 

 

Jika boleh saya hubung-hubungkan, saya menyamakan sisi-sisi saya itu seperti para penumpang dalam bus, dan saya adalah pak supirnya. Setiap sisi seperti setiap penumpang,  berteriak agar dipenuhi inginnya, ingin didengar pendapatnya, ingin saya memperhatikan dia, padahal saya punya tanggung jawab yang lebih besar dari sekedar menuruti kemauan sisi-sisi itu, tujuan akhir. Hem… disini mungkin menariknya, mereka seakan berkuasa, dan saya terjajah atas diri saya. Keterjajahan ini membuat saya tidak mampu lagi menikmati hijaunya daun-daun pepohonan, tenangnya tarikan nafas, segarnya air yang saya minum, atau nyamannya sofa yang saya duduki karena saya larut bersama teriakan mereka. Saya larut dalam kekhawatiran masa depan bersama si pencemas atau sibuk berbohong agar semua tindakan saya sesuai dengan si logika, *karena menikmati hidup tidak melulu harus pas dengan logika, ternyata. Saya menuruti mereka hingga mulai sadar bahwa saya mederita. Dan ini kemudian saya sebut sebagai konflik internal (dalam diri).

 

 

 

Tidak mudah menyelesaikan konflik internal, terlebih bila objek konflik tidak jelas, tidak terlihat siapa yang bertarung, tidak terlihat siapa yang terluka, siapa yang menang, dan siapa yang kalah, yang diketahui hanyalah hasilnya perasaan tidak nyaman. Baiklah, semua ketidaknyamanan terjadi karena diri saya terprovokasi, provokasi atas segala ingin. Padahal dalam realita, saya tidak selalu mendapatkan keinginan saya.

 

 

 

Bila tak mau terprovokasi, coba kembalilah berdiri ditengah dan siapkan diri menjadi pengamat (saja) untuk setiap sisi dalam dirimu, begitu kata dosen kesukaan saya sewaktu saya menemuinya dengan keadaan kalang kabut. Dan saya mencoba melakukan itu. Satu dua kali memang gagal, tapi ternyata saya bisa juga lakukan, hanya berdiri dan memperhatikan tiap sisi.

 

 

 

Saya memulainya dengan memejamkan mata, membayangkan bentuk si pencemas, dan cerita kali ini hanya tentang si pencemas. Warnanya yang abu-abu, bentuknya seperti anak-anak berumur 9 atau 10 tahun, ia kerap  berjingkrak-jingkrak tak tentu arah, ribut dan selalu banyak bicara.

 

 

 

“ayo kamu bergerak!” katanya , tapi saya pilih diam

 

“cepet bergerak, nanti hilang” katanya lagi sambil melompat-lompat, tapi kembali saya hanya diam dan memandanginya.

 

“ayooooooo…” kali ini di tampak makin gemas sehingga saya putuskan untuk bicara

 

“hallo pencemas, kenalkan aku Nuram. Boleh aku memegang tanganmu? Kau butuh apa?”

 

Dia mulai diam, lalu kulanjutkan “apa yang bisa ku bantu?”

 

Dia menjawab “aku ingin KAU bergerak cepat” aku tersenyum, lalu ku bilang sambil berbisik “aku  tidak bisa… aku tidak bisa memenuhi inginmu yang itu, tapi mungkin aku bisa membantumu yang lain” aku mulai duduk disampingnya. “apa yang kau butuhkan?”

 

“aku ingin kau menemaniku, karena aku sangat cemas… aku takut kehilangan sesuatu, sesuatu yang aku inginkan”

 

“baiklah… aku temani, tapi aku hanya mampu menemani, maaf ya” kataku sambil masih memegang tangannya.

 

“tak apa..”

 

 

 

Di atas realita saya duduk diam menikmati nafas, saya biarkan imajinasi saya masih membersamai si pencemas, dan sedikit demi sedikit hati saya mulai tenang, kepala terasa mengendur dan berkurang ketegangannya, dan saya kembali lagi menikmati nafas dalam 2-3 kali tarikan dan hembusan. Pertanyaannya… apakah keinginan sisi saya yang pencemas itu terpenuhi? Jawabannya:: tidak. Karena tujuannya berdialog dengan sisi diri saya bukan untuk memenuhi keinginannya, tapi belajar untuk lebih tenang dan tidak banyak terprovokasi.

 

 

 

Manusia tidak hanya bisa memprovokasi orang lain, tapi juga bisa terprovokasi oleh sisi-sisi dalam dirinya sendiri. Dan sangat mungkin hasil provokasi itu membuat ia melupakan saat ini, waktu dimana ia tegak berdiri, karena sibuk berpikir tentang apa yang belum datang atau apa yang telah terjadi.

 

 

 

Bila mulai terprovokasi: bernafaslah, rasakah sensasi tubuh saat ini. Saat ini, saat ini. Terima bahwa diri ini punya ingin, terima saja, kemudian berdialog, bukan mengontrol, merangkul bukan mengikat.

 

—-jika boleh kembali bermetafora: keinginan adalah sumber penderitaan manusia, tapi tidak mungkin manusia tidak memiliki keinginan, karena tidak ingin memiliki keinginan adalah sebuah keinginan.

Perjalanan 5 Cm (1)

“Dalam proses perjalanan puluhan ribu kilometer, hanya tak lebih dari seratus meter persegi tempat yang saya impi-impikan, yaitu roudhoh dan hijr ismail. puluhan ribu kilometer yang ditempuh, kenyataan bukan perjalan sejauh itu yang dituju, tetapi hanya 5 cm perjalanan ke dalam. ke dalam diri seseorang, jauh kedalam hatinya yang tidak mudah dibuka. Walaupun lama, banyak dan panjang perjalanan tertempuh, tidak menjamin akan berhasil menyentuh 5 cm ke dalam hati kita.”

Tanpa bermaksud riya dan sum’ah saya hanya bermaksud untuk berbagi nilai dan tidak lebih dari itu tentang cerita sebagian dari beberapa pengalaman fisik dan spiritual dalam proses perjalanan yang saya lalui.

 

musafir-berpuasa

Dalam perjalanan singkat saya ke makkah dan madinah, ditengah-tengah diskusi dengan mutowif (pemandu/ ketua rombongan), teman sekamar, dan beberapa mahasiswa bermukim di arab, sampai dengan para jamaah yang berasal dari negara lain. Saya jadi teringat akan sebuah statement, “jika ingin mengenal seseorang lebih jauh, ajaklah dia safar dan tinggal bersama.” itulah rasanya kami hanya dalam waktu sekejab bisa saling ada persaudaraan, bertemu kecocokan di satu sisi dan ketidakcocokan untuk ditoleransi di sisi yang lain. sampai jauh perpisahan itu terjadi tetapi rasa persaudaraan itu tetap terasa, tentu kita pernah memiliki sahabat dari sebuah perjalanan yang pernah tertempuh.

______________________
Kaki pertama kami menginjakkan tanah yang disebut-sebut sebagai negeri dimuliakan, kami disambut puncak musim dingin. waktu sholat luhur tepat matahari diatas kepala tetapi tak ada rasa panas, pun angin beku menusuk tulang. Diatas mesin digital tertulis 8 derajat. Suhu kering dan hamparan debu, tidak terlihat jenis tanah yang bersatu menggumpal membentuk bagian-bagian. Ya Tuhan,, alangkah berkahnya kau ciptakan tanah yang gersang ini menjadi idaman setiap muslim bisa menciumnya. Kau janjikan sebagai daerah tandus gersang yang tak terlihat mungkin tanaman bisa tumbuh menjadi negeri berkelimpahan dimana penghuninya tidak akan berkesusahan kelaparan.
Bus menyambut kami untuk diantarkan ke bagian imigrasi. Semua wajah tampak berbeda, kami tampak seperti orang bodoh dihadapan orang saling berbicara dengan bahasa yang tidak kami pahami. Mereka menangkap kebingungan kami, dengan bahasa Indonesia sepotong-sepotong, mereka mengarahkan kami. “jangan disini” teriak petugas. “menghadap ke kami.” Seru petugas yang lain. mereka paham potongan kata kami, tapi itu hanya sebatas potongan-potongan bahasa. Kami menyebutkan bahasa yang memahamkan tapi tak ada ruhnya.

 

Kami diarahkan kepada bis yang sudah disediakan. Nomor dan panduan dari mutowwif di depan kami… memberikan imajinasi tersendiri bagi saya seperti kambing-kambing yang digiring menuju kandang. Diatas bis kami naiki, seorang bapak setengah tua. Wajah kampung jawa, logat diseret-seret dan cepat… ah Madura. Sesaat berbicara di telepon dengan logat sunda. Dan menghadapi petugas airport berbicara bahasa arab. Alamakk, cerdas nian bapak ini.
Diatas bis, ketika semua telah berkumpul.. sebentar diabsen dan sedikit basa-basi. Kami berdoa, bersolawat atas nabi, dan mengucapkan puji-pujian syukur atas segala nikmat. Tuhan yang maha mencukupkan, maha melapangkan, maha memungkinkan segala sesuatu terjadi. Kami saling mengenalkan satu sama lainnya.

Diskusi pertama

Basa-basi yang dirasa cukup untuk mencairkan suasana dan pak supir dipersilahkan menancapkan gasnya menuju tempat penginapan pertama kami, dari Jeddah ke madinah. Bukan perjalanan sebentar, mungkin dibutuhkan sekitar 6 jam perjalanan atau sekitar 400an kilometer. Itu waktu yang cukup untuk kami berdialog dan berdiskusi saling memahamkan.
Mutowwif mengajukan pertanyaan kepada kami semua, “Dahulu dibutuhkan berbulan-bulan dari Indonesia menuju ke arab. tidak sedikit yang mengalami kelaparan, kehabisan bekal sampai meninggal di kapal. tetapi sekarang cukup 10 jam saja. begitu pula sepanjang perjalanan gersang yang kita lalui. dahulu mereka berminggu-minggu melakukan perjalanan melewati panas dan haus. sekarang, kita menaiki kendaraan yang suhu bisa kita atur sesuka kita, bekal minum yang kadang kita terlalu serakah sehingga terlalu lebih untuk menghindari haus. Bagaimana kita memaknai kejadian ini? Apakah kita memiliki pahala yang sama dengan para musafir terdahulu?”

Salah satu jamaah di tengah posisi duduk mengajukan jawaban dari statement mutowwif, “ Tapi… pahala dan derajat ibadah sebanding dengan beratnya amal yang dilalui.” saya hanya memahami dalam diam sambil berpikir, beruntunglah orang-orang terdahulu yang lebih bisa menghayati perjalanan karena perjalanan itu lebih mirip seperti yang dilakukan nabi-nabi terdahulu.

 

Ah, anak muda ini pintar sekali… saya yang akhirnya menyadari kemudian dia adalah teman sekamar, usia satu tahun dibawahku, anak dari pengasuh pondok pesantren dengan santri ribuan di daerah Lombok, dia adalah satu-satunya mahasiswa dari Libya… mmmm… aku tidak tahu dia masih mahasiswa atau tidak karena di akhir menjelang ujian akhir dia terpaksa dipulangkan karena konflik pemerintahan Khadafi. Sebenarnya ya… saya agak sedikit malu menceritakan tentang dirinya.. dia bisa kapanpun membuka dan membaca tulisan ini, di facebook atau di jejaring social lainnya kami berteman. Ah, biarlah… paling beliau terlalu sibuk memberikan tausiyah kepada santri-santrinya.

 

Pertanyaan pertama mutowwif itu menjadikan banyak brainstorming bagi kami, benar juga banyaknya kemudahan kami yang sekarang dengan musafir terdahulu. Banyak hal dipermudah dalam melakukan perjalanan yang saya anggap itu sebagai perjalanan ke dalam. 10 jam perjalanan dari indonesia itu hampir seperti tidak terasa jika kita hanya tidur, sesaat bangun dilayani oleh pramugari-pramugari cantik, molek dengan suara lembut menyodorkan makanan, sesekali minuman kapanpun kita ingin minta. selimut hangat dan channel tivi dengan bahasa yang tidak saya pahami bisa mengalihkan dari berdzikir dan berdoa.

 

Kabar-kabar kereta super cepat dari jepang sebentar lagi di boyong teknologinya ke sini, jalurnya sudah selesai separoh. Dan jika itu terjadi, betapa lebih kami dimanjakan. Jedah-madinah dari 6 jam bisa ditempuh hanya 1,5 jam. Madinah-makkah mungkin Cuma 2 jam. Bagaimana mungkin jamaah bisa berdzikir lebih sering mengucapkan “labbaik Allah humma labbaik…” kalau Cuma 2 jam saja. Bagaimana kita bisa tenang melantunkan “subhanallah wal hamdulillah wala ila ha ilallah wallahu akbar.” Sementara tiba-tiba sudah sampai di hotel. Di hadapkan dengan westafel hangat, makanan enak-enak.

 

Ini seperti analogi ketika saya hendak beli es krim. Dahulu orang jualan es krim dengan menggunakan sepeda, dikayuh pelan sambil menyembunyikan karet diatas setang yang jika ditekan ada suara… “teeettt..”. sekarang karena kemajuan teknologi, penjual es krim sudah mengendarai sepeda motor, bunyi suaranya pun sudah di rekam dengan menggunakan alat pengeras suara. Saya bermaksud untuk membeli es krim itu, tetapi ketika bunyi itu di depan rumah, saya berpikir dan bersiap untuk membelinya, ternyata tukang es krim itu sudah Nampak di kejauhan. Bahkan suara saya memanggil pak es krim itu sudah kalah dengan suara rekaman pak es krim.

 

Ada jenis kecepatan yang terkadang tidak berbanding dengan tujuan yang diharapkan. Saya yang hendak membeli es krim itu harus cepat bersikap, apakah cepat membelinya atau kalah tertinggal dari laju kecepatan tukang es krim tadi. Analogi saya diatas mungkin kurang sesuai jika dihubungkan dengan teknologi diterapkan di arab, tetapi cukup menggambarkan kalau peran teknologi yang salah sasaran itu juga bisa tidak baik.

 

Demikian dengan ibadah sa’I menempuh perjalanan 7 kali antara bukit sofa dan marwah. Jika dahulu dikisahkan istri nabi Ibrahim (siti hajar) ditinggalkan ditengah padang gurun bersama anaknya. Saat kehabisan perbekalan, siti hajar bermaksud mencari bantuan, mencari air untuk menghilangkan rasa kehausan yang sangat… beliau terpaksa meninggalkan anaknya dan berlari ke bukit untuk mencari sumber air, sofa. Barangkali ada pertolongan atau air di bukit sofa. Dari sofa ke marwa berbalik berkali-kali. Dihadapkan dengan naik turun bukit terjal, disela-sela kehausan, kelemahan karena kecapaian fisik, dan kekhawatiran kepada anaknya yang ditinggalkan di sebuah batu. Bagaimana kita bisa merasakan lelah dan penghayatan perjuangan ibu siti hajar jika dalam proses ibadah sebagai penghormatan “napak tilas” ibadah beliau kita hanya menggunakan segala akses yang dimudahkan. Kalaulah untuk kakek nenek atau orang yang sedang sakit menjalankan ibadah haji, mungkin ada rukhsoh atau kemudahan ibadah.

 

Terlepas dari itu semua, ibadah umroh/ haji adalah ibadah fisik. Ibadah yang sangat menguras tenaga dan butuh perjuangan. Jika bagi yang sedang berhalangan, untuk ibadah ada kemudahan. Kemudian untuk yang sangat stamina fisiknya, yang ingin begitu mencintai setiap perjuangan nabi Ibrahim dan istri, nabi-nabi terdahulu, serta nabi Muhammad SAW. Saya kembalikan ke diskusi yang dilontakan oleh mutowwif dan dijawab oleh teman muda saya itu…. “kadar amal ibadah sesuai dengan jerih payahnya.”

 

Bersambung…..

Market dan Psikologi

Pada sebuah kesempatan di sebuah warung yang menjual menu masakan kalkun, pembeli bertanya pada penjual. “Wah, pelihara banyak kalkukn dong Mas buat stok jualan?” “Ndak kok mas… kebetulan saya ikut komunitas (komunitas unggas)….”

Pada kesempatan yang lain, dua orang calon pembeli yang sedang mencari warung makan berdiskusi. ” Makan di mana nih.., gimana kalo di situ aja …. gak terlalu ramai…” Teman satunya lagi menimpali…”Wah, jangan beli di warung yang sepi…. pasti gak enak…”

Dua penggal kisah di atas sedikit memberikan gambaran kepada kita, bahwa penjualan itu sangat erat kaitannya dengan ilmu psikologi. Pasar dan manusia merupakan dua elemen usaha yang tak dapat dipisahkan. Dan berbicara tentang perilaku manusia dalam pasar maka psikologi menjadi penting.

Continue reading

Quote Galau Pengusaha

bob1Galau merupakan dorongan jiwa tersendiri dalam kehidupan pengusaha. Dalam sebuah percakapan antara manusia-manusia galau, diperoleh konsepsi yang berbeda antara galau dan cemas. Sama-sama menimbulkan perasaan-perasaan tertentu, namun Galau lebih bersifat berputar-putar pada porosnya. Lain halnya dengan kecemasan. Arousal yang muncul mendorong seseorang untuk bertindak ke arah tertentu, tak hanya berputar-putar saja namun menimbulkan pergerakan ke arah kompensasi yang menenangkan. Benarkah itu atau barangkali hanya suatu opini belaka?

Galau ternyata tidak selalu negatif. Karena kegalauan juga bisa memunculkan ide-ide unik bila itu digalaukan oleh orang yang telah banyak memakan asam garam kegalauan kehidupan. Berikut buah kegalauan seorang pengusaha terkenal yang tidak asing lagi di Indonesia. Bob Sadino. Continue reading